Basuki Tjahaja Purnama dan Kasus Penistaan Agama: Inilah 7 Pelajaran Penting dan Berharga dari Ahok

Rabu kemarin (23/5/17), dalam konferensi pers, (Ibu) Veronica Tan—istri (Bapak) Basuki Tjahaja Purnama—membacakan surat pernyataan yang ditulis tangan oleh Pak Ahok (panggilan akrab Basuki Tjahaja Purnama) dari balik jeruji penjara (seperti pada gambar di bawah). Surat tersebut menunjukkan alasan dibalik pencabutan banding Pak Ahok atas kasus penistaan agama yang membuatnya divonis dua tahun penjara beberapa pekan lalu (9/5/17).

Surat Ahok dari Penjara
Gambar diunggah oleh Saidiman Ahmad‏ melalui akun Twitter-nya

Masyarakat menanggapi pencabutan banding Pak Ahok secara beragam. Ada yang bersimpati/berempati, ada yang menghormati keputusan tersebut, ada yang nyinyirmenganggapnya hanyalah sebuah pencitraan, dan ada juga yang berspekulasi bahwa itu bagian dari strategi kuasa hukumnya. Bagi saya, berbagai tanggapan tersebut menunjukkan atensi masyarakat yang begitu besar terhadap sosok Pak Ahok dan kasus penistaan agama yang dihadapinya.

Atensi ini menjadi sesuatu yang menarik perhatian saya. Apalagi, dalam konferensi pers tersebut—yang dihadiri dan diliput/disiarkan oleh banyak media massa di Indonesia, kita bisa menyaksikan Bu Vero menangis saat mengungkap alasan pencabutan banding suaminya. Salah satunya CNN Indonesia, yang juga mengunggah video liputannya di YouTube (seperti pada video di bawah).

Saya yakin, kasus penistaan agama yang dihadapi Pak Ahok pasti menguras banyak energi pihak pendukung maupun pihak oposannya—secara fisik, pikiran, dan (terutama) emosional. Buktinya nampak dari aksi-aksi yang mereka lakukan—baik yang menggunakan deretan angka sebagai nama aksinya, yang mengusung gagasan kebhinnekaan, maupun yang memakai simbol-simbol tertentu (bunga, bibit tanaman, dan lilin) dalam aksi mereka. Bukti lainnya bisa dilihat dari banyaknya perdebatan yang pernah terjadi antara kedua belah pihak tersebut di berbagai platform media sosial—khususnya Facebook dan Twitter. Dengan mata kepala sendiri, saya pernah beberapa kali menyaksikan debat kusir antar pengunjung saat nongkrong di warung kopi.

Belajar dari Pak Ahok Lewat Kasus Penistaan Agama

Bagi anda yang termasuk pihak oposan, sub-judul di atas (mungkin) malah memunculkan kegeraman, membuat anda berespon: “apa yang bisa dipelajari dari penista agama?”, lalu menutup halaman ini (semoga tidak; tapi saya menghargai reaksi anda tersebut, terima kasih sudah bersedia membaca artikel ini meski tidak tuntas).

Bagi pihak pendukung, maupun yang hanya ikut bersimpati atau berempati terhadap Pak Ahok dan kasus penistaan agama yang dihadapinya, saya berharap kita bisa mengambil pelajaran dari Pak Ahok supaya tidak terjadi kasus-kasus serupa di kemudian hari.

Setidaknya, lewat kasus penistaan agama, ada 7 poin pembelajaran yang bisa kita peroleh dari sosok Pak Ahok, antara lain:

  1. Bijak dalam bertutur dan bertindak,
  2. Kelola emosi dan cara mengekspresikannya,
  3. Mawas diri dalam menggunakan media sosial,
  4. Mengutamakan kepentingan bersama,
  5. Merefleksikan pengalaman pribadi,
  6. Berkomitmen untuk melakukan perubahan,
  7. Berserah dan taat pada Tuhan.

#1 Bijak dalam bertutur dan bertindak

Ada ungkapan “mulutmu, harimaumu”. Saya mengartikannya “setiap perkataanmu (dan perbuatanmu) akan berbalik kepadamu”. Nampak seperti konsep hukum Karma Pala dalam ajaran agama Hindu atau hukum Karma dalam ajaran agama Buddha.

Gara-gara slip-of-the-toungetentang surat Al-Maidah ayat 51—yang dilakukan oleh Pak Ahok saat berbicara kepada sebagian warga nelayan di Kepulauan Seribu, dirinya dinyatakan melanggar Pasal 156  KUHP tentang Penodaan Agama.

Terlepas dari perdebatan di balik asal-usul delik pasal penodaan agama tersebut, dan kontroversi penerapannya dalam kasus Pak Ahok, ungkapan “mulutmu, harimaumu” tadi sudah dibuktikan sendiri oleh Pak Ahok—membuatnya dijerat hukuman 2 tahun penjara.

Nah.. apakah anda sendiri pernah “kena batunya” akibat kurang bijak dalam bertutur dan bertindak? (tidak perlu sampai anda berhadapan dengan hukum seperti Pak Ahok; misalnya, itu membuat anda berkonflik dengan pasangan, keluarga, teman, rekan kerja, atasan, atau pihak lain).

#2 Kelola emosi dan cara mengekspresikannya

Ada tiga alasan Pak Ahok menyinggung tentang surat Al-Maidah ayat 51 yang membuatnya tersandung kasus penistaan agama. Pertama, Pak Ahok teringat pengalamannya saat menjadi bupati Bangka Belitung. Kedua, Pak Ahok ingin menyindir oknum-oknum yang tidak setuju dipimpin oleh seorang non-muslim. Dan, ketiga, menurut saya—berdasarkan analisis terhadap berbagai pemberitaan di media massa, Pak Ahok merasa tidak terima jika ayat dalam surat tersebut digunakan sebagai alat propaganda politik.

Benang merah dari ketiga alasan tersebut, yaitu adanya muatan emosi yang kurang dikelola dengan baik sehingga itu diekspresikan secara kurang tepat, yang akhirnya malah berujung pada munculnya masalah.

Menurut Daniel Goleman, kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan cara mengekspresikannya dipengaruhi oleh kecerdasan emosi yang dia miliki. Kabar baiknya, tingkat kecerdasan emosi yang kita miliki bukan sebuah harga mati, dan bisa terus kita kembangkan sepanjang hidup (berbeda dengan kecerdasan intelektual, yang pasti akan menurun saat kita menginjak usia tua). Kabar lebih baiknya lagi, dengan mengetahui prinsip-prinsip kerja kecerdasan emosi, lalu melatihnya secara konsisten, niscaya akan terjadi peningkatan kualitas.

Biasanya, adanya peningkatan kualitas kecerdasan emosi berkorelasi positif dengan cara bertutur dan bertindak yang semakin bijak—dan sebaliknya. Tak percaya? Pada kasus Pak Ahok, jika anda mengamati, sejak dirinya dilaporkan dengan tuduhan melanggar pasal penodaan agama, tidak beberapa lama kemudian Pak Ahok menjadi semakin berhati-hati dalam bertutur—tidak asal nyeplos seperti sebelumnya.

#3 Mawas diri dalam menggunakan media sosial

Salah satu alat bukti yang digunakan untuk menjerat Pak Ahok, yaitu rekaman audio-visual pidatonya di Kepulauan Seribu (seperti pada video di bawah).

Terlepas dari kontroversi di balik dua versi rekaman video pidato Pak Ahok—yang mana, salah satu video yang diunggah Buni Yani membuatnya berhadapan dengan hukum. Menurut saya, kasus Pak Ahok ini menunjukkan betapa pentingnya untuk memperhatikan konten—baik rekaman, gambar maupun tulisan—yang kita unggah/terbitkan ke media sosial.

Di luar kasus Pak Ahok, ada banyak orang yang sudah dijerat hukum akibat melanggar UU ITE. Bahkan, menurut Menkominfo, propinsi NTB paling banyak kasus pelanggaran UU ITE. Tentunya anda tidak ingin terjerat kasus serupa karena dianggap melanggar UU ITE hanya gara-gara konten anda di media sosial, bukan?

#4 Mengutamakan kepentingan bersama

Saya tahu tidak mudah bagi saudara menerima kenyataan seperti ini, apalagi saya. Saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini, jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara.

—Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Saya memahami frasa “menerima kenyataan seperti ini” dan “menerima semua ini” dalam kutipan di atas, salah satunya, sebagai “menerima vonis pidana” yang dikenakan kepada Pak Ahok. Bila pemahaman tersebut benar, betapa mulianya Pak Ahok karena lebih mementingkan kebaikan berbangsa dan bernegara daripada kepentingan pribadinya dan keluarga.

Mengapa saya berani berkata “betapa mulianya Pak Ahok”? Jawabannya sudah tersedia dalam kutipan tersebut, bahwa “tidak mudah” menerima keputusan itu, juga untuk mengampuni setiap orang yang sudah “menjatuhkan harga diri” Pak Ahok beserta keluarga. Tapi, demi kepentingan “bersama”, Pak Ahok merelakan itu semua terjadi dalam hidupnya.

Jujur saja, saya belum tentu bisa berespon seperti Pak Ahok apabila saya dihadapkan pada situasi yang sama. In case—jika saya mengalami kasusnya Pak Ahok, meskipun saya bisa mengesampingkan kepentingan pribadi, saya tidak sanggup menangguhkan kepentingan keluarga. Efeknya, saya juga belum sanggup mengampuni mereka yang sudah melukai perasaan keluarga saya. Bagaimana dengan anda?

#5 Merefleksikan pengalaman pribadi

Saya telah banyak berpikir tentang yang sedang saya alami.

—Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Dengan merefleksikan pengalaman pribadi, kita bisa mengetahui banyak hal tentang diri sendiri. Mulai dari jejak-jejak masa lalu yang masih membekas hingga sekarang, sisi baik-buruk/kekuatan-kelemahan, hingga potensi diri. Semua hal tersebut bermanfaat positif terhadap pengembangan diri dan peningkatan kualitas hidup kita masing-masing.

In my case, andaikata saya gagal merefleksikan adanya kepribadian introvert dalam diri, dan memperhitungkan efeknya buat masa depan saya, niscaya saya tidak akan berani mengambil keputusan untuk berprofesi sebagai dosen, community-organizing, dan fasilitator training & development—yang notabene lebih memerlukan aspek-aspek dalam kepribadian ekstrovert.

Bagaimana dengan Pak Ahok? Saya rasa dan kira, jika Pak Ahok gagal berefleksi—banyak berpikir tentang yang sedang dia alami, maka dirinya tidak akan bisa mengambil keputusan seperti pada poin sebelumnya.

#6 Berkomitmen untuk melakukan perubahan

Berniat untuk berubah itu mudah. Namun berkomitmen untuk melakukannya, itu butuh kebulatan tekad dan inisiasi yang kuat.

by me, but many people said so

Pada poin kedua saya menyatakan “sejak dirinya (Pak Ahok) dilaporkan dengan tuduhan melanggar pasal penodaan agama, tidak beberapa lama kemudian Pak Ahok menjadi semakin berhati-hati dalam bertutur—tidak asal nyeplos seperti sebelumnya”. Jika anda menyadarinya, Pak Ahok tetap konsisten untuk menjaga tutur katanya agar tidak ada lagi pihak-pihak yang tersinggung dengan ucapannya (setidaknya hingga tulisan ini saya terbitkan).

Ini sebuah fakta yang sudah menjadi rahasia umum. Bahwa penyebab utama kegagalan pasangan suami-istri dalam mempertahankan keharmonisan/keutuhan rumah tangganya—khususnya saat keduanya sudah bernegosiasi dan membuat kesepakatan bersama setelah mengalami permasalahan rumah tangga, yaitu salah satu/keduanya gagal mempertahankan komitmen dalam hubungan pernikahan.

Dalam kasus hubungan pernikahan saja, komitmen itu penting. Apalagi bagi seseorang yang memiliki peran sebagai pemimpin. Konsistensinya dalam melakukan komitmen yang sudah dia buat menjadi indikator utama dari ada/tidaknya kepercayaan publik terhadap dirinya. Agar lebih mengena, bagaimana dengan pengalaman anda? Apakah komitmen itu penting? (pertanyaan ini untuk anda renungkan saja).

#7 Berserah dan taat pada Tuhan

Kita tunjukkan kita beriman pada Tuhan Yang Maha Esa… Gusti ora sare. Put your hope in the Lord, now and always.

—Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Jauh sebelum kutipan di atas disebutkan oleh Pak Ahok dalam suratnya. Pada November 2016, Pak Ahok mendapatkan ancaman yang diusut oleh Polda Metro Jaya—berupa ancaman pembunuhan. Juga, pada Januari 2016, ketika ancaman serupa pernah diterimanya, Pak Ahok dengan berani dan tegas berkata “mati itu di tangan Tuhan, jadi enggak usah takut”.

Alpian Pandia menilai bahwa, selama menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, Pak Ahok merupakan pemimpin yang takut akan Tuhan. Selain itu, Palti Hutabarat, dalam tulisannya yang terbit pada Juni 2015 di Kompasiana, berjudul “Inilah Rahasia Keberanian Ahok”, menyebutkan “Ahok menyatakan bahwa keberaniannya muncul karena ketaatannya membaca Alkitab setiap hari. Dalam setiap permasalahan selalu muncul ayat-ayat firman Tuhan yang memberikan kekuatan dan keberanian”.

Sungguh, keimanan Pak Ahok kepada Tuhan Yang Maha Esa (bisa jadi) melebihi pemuka agama manapun—terutama yang berlatarbelakang Kristen/Katolik. Bukti-buktinya terpampang jelas sepanjang dia menjadi pejabat pemerintah di Indonesia.

Dalam hal ini, saya menjadikan Pak Ahok sebagai teladan kedua dalam hidup, setelah Yesus. Dan, saya merasa “lengkap”. Pertama, karena saya memiliki teladan yang tidak terlihat namun saya percaya. Kedua, karena saya memiliki teladan yang terlihat namun saya tidak sepenuhnya percaya.

Sikap Saya terhadap Pak Ahok: Sebuah Catatan Pelengkap

Mengapa saya menyatakan “tidak sepenuhnya percaya” pada Pak Ahok?

Di satu sisi saya termasuk pihak yang mengkritik Pak Ahok terkait gaya komunikasi publiknya—yang tanpa teding aling-aling namun cenderung kasar—serta keputusan-keputusannya yang merugikan sebagian warga dan merusak lingkungan hidup pantai-perairan di Jakarta—khususnya pada isu penggusuran dan reklamasi. Di sisi lain, saya termasuk pihak yang mengapresiasi kerja-kerja Pak Ahok demi pengembangan kota Jakarta dan kesejahteraan warganya—di luar isu penggusuran dan reklamasi.

Lalu, jika anda bertanya tentang keberpihakan saya, maka jawabannya..

SAYA BERPIHAK PADA KEBENARAN DAN KEADILAN!

Penutup

Saya merasa lega karena sudah berani menuliskan uneg-uneg saya dalam artikel ini. Selain itu, secara pribadi, saya berharap bisa meneladani 7 hal yang saya pelajari dari sosok Pak Ahok lewat kasus penistaan agama yang dihadapinya. Dan, akhir kata, semoga artikel ini menginspirasi anda; terlebih lagi, bisa bermanfaat bagi anda.

—Salam,

A Su Cong

Iklan

4 pemikiran pada “Basuki Tjahaja Purnama dan Kasus Penistaan Agama: Inilah 7 Pelajaran Penting dan Berharga dari Ahok

  1. Sejak tahun 97 saya merasa bahwa musuh terbesar bangsa ini adalah korupsi. Buat saya ahok adalah simbol pejabat bersih dan anti korupsi. Sekarang 20 tahun kemudian, tepatnya sejak vonis ahok dijatuhkan, saya merasa daripada menghancurkan korupsi lebih baik membangun masyarakat sipil lewat pendidikan dan kesehatan. Biar saja yang mau berebut kekuasaan, jabatan dan kekayaan mendapatkan apa yg mereka mau. Tapi semua anak yg lahir di negara ini berhak mendapatkan pendidikan dan kesehatan sebagai hak dasar warga negara ini

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s